Duh...itulah kata-kata yang keluar dari mulutku ketika melihat layar monitor perdagangan saham di BEI yang masih saja dipenuhi angka-angka berwarna merah..hampir sebulan seiring dengan ambruknya indeks bursa global, saya sering mendapat pertanyaan tentang apakah sebaiknya investor melakukan cut loss karena takut indeks akan turun lebih dalam lagi. Pada umumnya, para investor yang merasa paling cemas dan berpikir untuk melakukan cut loss adalah mereka yang telah berinvestasi di saham atau reksa dana saham, di mana penurunan nilai investasinya bisa mencapai 50% jika diasumsikan sama dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari titik puncaknya pada level 2830 (IHSG pada penutupan hari bursa tanggal 14 Januari 2008) ke posisi 1440 (IHSG per tanggal 21 Oktober 2008). Saya mencoba memaparkan alasan serta implikasi dari tindakan cut loss dengan harapan dapat membantu proses pengambilan keputusan investasi. Ada beberapa alasan mengapa investor berpikir untuk melakukan cut loss: (1) ingin menghindari kerugian yang lebih besar, (2) “timing the market” – ingin menjual sekarang lalu membeli kembali di saat harganya lebih rendah, atau (3) menyadari bahwa profil resikonya tidak sesuai – dalam hal ini investor mungkin merasa sangat tidak nyaman atau bahkan tertekan dengan kondisi portofolio saham atau reksa dana sahamnya, sampai-sampai perasaan ini mengganggu kehidupan sehari-harinya, misalnya menjadi panic, gelisah, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, tidak enak makan, dan lain sebagainya.Implikasi dari tindakan (cut loss) adalah realisasi kerugian yang mungkin tidak sedikit. Sebagian investor yang telah atau yang akan mengambil pilihan ini umumnya merasa tidak nyaman, baik terhadap kerugian yang diderita maupun terhadap kondisi serta prospek pasar di kemudian hari. Investor kemudian akan memikirkan bagaimana agar nilai dana yang ada saat ini bisa kembali ke nilai awal sebelum terjadinya kerugian (balik modal). Misal, jika investor membeli saham pada posisi indeks 2800 melakukan cut loss pada saat indeks turun menjadi 1400, maka kerugian yang akan direalisasikan adalah sebesar 50%. Tentunya setelah tindakan ini investor akan berusaha untuk balik modal, namun dalam hal ini investor sering tidak menyadari bahwa untuk kembali ke nilai investasi awal seperti ketika indeks berada di posisi 2830 diperlukan instrumen investasi pengganti yang memberikan imbal hasil investasi sebesar 102% dalam 1 tahun, atau 41% per tahun selama 2 tahun, atau 26% per tahun selama 3 tahun. Pertanyaan yang selanjutnya timbul adalah, apakah ada instrumen pengganti yang bisa memberikan imbal hasil demikian? Saya mengasumsikan bahwa dengan melakukan cut loss, berarti investor keluar dari saham dan beralih ke instrumen yang beresiko lebih kecil atau bahkan tidak beresiko (risk-free assets). Jika yang dipilih adalah risk-free assets misalnya deposito berjangka dengan bunga 8% per tahun (atau 6.4% net setelah dipotong pajak 20%), maka dibutuhkan waktu 11 tahun untuk kembali ke nilai investasi awal! Lebih jauh, ada fenomena menarik di mana semakin dalam koreksi pasar saham, semakin kecil peluang investor untuk melakukan cut loss. Dalam tulisan ini saya memaparkan logika untuk tidak melakukan cut loss saat terjadi koreksi pasar. Malah saya sudah membuktikan secara kuantitatif bahwa peluang cut loss sebenarnya semakin kecil seiring dengan makin dalamnya koreksi pasar. Pertanyaan yang mungkin kemudian terbesit di benak investor adalah, “Apakah ini berarti cut loss pantang dilakukan?” Tidak juga. Cut loss boleh dilakukan oleh investor jika memang profil resikonya tidak cocok untuk berinvestasi di saham. Ini bisa diindikasikan dengan perubahan perilaku atau temperamen si investor dalam menyikapi koreksi pasar yang dalam; bila hal ini menimbulkan kepanikan, kegelisahan bahkan penurunan kualitas hidup (seperti sulit tidur, tidak enak makan) maka mungkin sebaiknya ia melakukan cut loss dan beralih ke instrumen investasi lain yang risikonya lebih kecil atau bahkan tidak beresiko (risk-free assets). Namun tentunya, dengan keputusan tersebut investor harus mau menerima implikasi bahwa imbal hasil yang diperoleh dari instrumen investasi pengganti mungkin tidak sebesar yang diharapkan. Malah tidak tertutup kemungkinan investasi di risk-free asset memberikan imbal hasil yang lebih kecil dari tingkat inflasi sehingga dalam jangka panjang akan menggerus disposable income dan mempersulit sang investor untuk mempertahankan gaya hidupnya. Selain itu dengan melakukan cut loss investor juga bisa kehilangan kesempatan untuk kembali berinvestasi di saham begitu pasar saham mengalami rebound. Jadi pada kesimpulannya, sebelum mengambil keputusan investor harus memiliki alasan yang mendasari keputusannya serta menyadari dan berani menerima sepenuhnya implikasi dari keputusannya tersebut. Mengambil keputusan tanpa mengetahui dan menyadari alasan serta implikasinya hanya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar